Rabu, 26 Februari 2014

SAM RATULANGI, PAHLAWAN DARI MANADO


Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949) adalah salah seorang politikus dan pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Filsafatnya yang berbunyi, “Si tou timou tumou tou” — manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia – sangat terkenal hingga sekarang.
Sam Ratulangi adalah anak lelaki satu-satunya dari tiga bersaudara, yang merupakan buah cinta pasangan Jozias Ratulangi dan Agustina –putri dari Mayoor Gerungan. Ayah Sam adalah seorang guru yang sangat cerdas. Oleh karenanya, ia dikirim ke Belanda untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Setelah memperoleh Ijazah Hoofdakte, Jozias kembali ke tanah air dan menjadi kepala sekolah di Hoofdenschool, sekolah untuk anak-anak bangsawan atau raja-raja.
Sam mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar Belanda (Europeesche Lagere School) di Tondano dan melanjutkan ke Sekolah Menengah (Hoofdenschool) di sana. Setelah menamatkan pendidikannya di Hoofden School, Sam kemudian meninggalkan tanah kelahirannya untuk belajar di Indische Artsenschool (Sekolah Dokter Hindia) di Jakarta. Namun, setibanya di Jakarta, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke sekolah dokter dan lebih memilih untuk belajar di Koningin Wilhelmina School (Sekolah Teknik) dan tinggal di asrama “Beck Volten”. Empat tahun kemudian ia berhasil menamatkan pendidikannya dengan nilai gemilang. Latar belakang pendidikannya itu membuka kesempatan baginya untuk bekerja sebagai ahli teknik mesin di daerah Priangan Selatan, dan terlibat dalam proyek pembuatan jalan kereta api dari Garut ke selatan, melalui Rawah Lakbok ke Maos hingga ke Cilacap.

Lanjutkan disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar