Kamis, 27 Februari 2014

SEJARAH KEKUATAN INDONESIA YANG MENGGETARKAN DUNIA


1960-an, di era Presiden Sukarno, kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.
1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.
Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.
pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.
Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Madiun.
Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.
Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.
Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.
(Sumber: www.menone.wordpress.com)
Sumber lain : www.sejarahri.com

SURAT CINTA SOEKARNO BERBAHASA JAWA

Sekian banyak tulisan tangan Sukarno, berikut satu surat yang ia tulis 31 Agustus 1963, ditujukan kepada Hariyatie, salah satu istri yang dinikahinya 21 Mei 1963. Waktu itu, Hariyatie masih tinggal di rumah Jl Madiun, Menteng – Jakarta Pusat. Itu artinya, surat itu ditulis dalam suasana “bulan madu”, alias “penganten anyar”. Wajarlah kalau Bung Karno selalu terkenang-kenang kepada sosok wanita penari berparas ayu itu.
Surat itu terdiri atas dua lembar. Pada sisi kertas ditulis miring, Bung Karno menulis “Bali saka hotel, ora bisa turu, njur nulis layang iki” (Pulang dari hotel, tidak bisa tidur, lantas menulis surat ini). Memang, surat kepada Harijatie banyak dituang dalam bahasa Jawa. Berikut kutipan surat tersebut:
Yatie adikku wong ayu,
Iki lho arloji sing berkarat kae. Kulinakna nganggo, mengko sawise sesasi rak weruh endi sing kok pilih: sing ireng, apa sing dek mau kae, apa karo-karone? Dus: mengko sesasi engkas matura aku (Dadi: senajan karo-karone kok senengi, aku ya seneng wae).
Masa ora aku seneng! Lha wong sing mundut wanodya pelenging atiku kok! Aja maneh sekadar arloji, lha mbok apa-apa wae ya bakal tak wenehke.
Tie, layang-layangku ki simpenen ya! Karben dadi gambaran cintaku marang kowe kang bisa diwaca-waca maneh (kita baca bersama-sama) ing tembe jen aku wus arep pindah-omah sacedake telaga biru sing tak ceritake dek anu kae. Kae lho, telaga biru ing nduwur, sak nduwure angkasa. Coba tutupen mripatmu saiki, telaga kuwi rak katon ing tjipta! Yen ing pinggir telaga mau katon ana wong lanang ngagem jubah putih (dudu mori lho, nanging kain kang sinulam soroting surya), ya kuwi aku, — aku, ngenteni kowe. Sebab saka pangiraku, aku sing bakal ndisiki tindak menyang kono, — aku, ndisiki kowe!
Lha kae, kembang semboja ing saknduwure pasareanku kae, — petiken kembang iku, ambunen, gandane rak gandaku. Dudu ganda kembang, nanging sawijining ganda kang ginawe saka rasa-cintaku. Sebab, oyote kemboja mau mlebu ing dadaku ing kuburan.
(Masmu, Soekarno)
Jika Anda mengerti bahasa Jawa, tentu memahami isi surat Bung Karno ini. Pada bagian akhir begitu dalam maknanya. Dan bagi Anda yang tak mengerti bahasa jawa, berikut terjemahan bebasnya:
Yatie, adikku yang ayu,
Ini lho, arloji bertahta emas itu. Biasakan memakai, nanti setelah sebulan kamu akan tahu mana yang hendak dipilih, yang hitam atau yang satunya, atau keduanya? Jadi, nanti sebulan lagi, bilanglah (walaupun suka keduanya, aku senang juga).
Masakan aku tidak senang, lha yang meminta saja wanita jantung hatiku! Jangankan sekadar arloji, minta apa pun akan aku beri.
Tie, surat-suratku ini tolong disimpan ya! Supaya menjadi gambaran cintaku kepadamu, yang bisa dibaca-baca lagi (kita baca bersama-sama) pada suatu saat nanti, kala aku mau pindah-rumah di dekat telaga biru yang saya ceritakan ketika itu. Itu lho, telaga di atas, di atasnya angkasa. Coba kau pejamkan matamu sekarang, maka kau akan bisa membayangkan telaga itu! Kalau di tepian telaga tadi tampak lelaki berjubah putih (bukan kain kafan lho… tetapi kain yang bersulamkan pancaran sinar matahari), ya itu aku, –aku, menunggumu. Sebab dari perkiraanku, aku yang bakal mendahului pergi ke sana, aku mendahuluimu!
Lha itu, kembang kamboja di atas nisanku, petiklah kembang itu, ciumilah, maka kamu akan rasakan aroma tubuhku. Bukan aroma bunga, tetapi sebuah aroma yang tercipta dari rasa-cintaku. Sebab, akar kamboja itu menusuk menembus dadaku, di dalam kuburan sana.
(Masmu, Soekarno)
Demi dan atas nama surat itu, Hariyatie pun rajin berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Sayang, di atas pusara Bung Karno, tak tertanam pohon kamboja. Meski begitu, Hariyatie tentu bisa merasakan, aroma Bung Karno di sekitar pusara. Sebab, jazad Bung Karno begitu dicintai oleh tanah yang memeluknya dengan hangat.
(sumber: rosodaras.wordpress.com)

BIOGRAFI HIM DAMSYIK

BIOGRAFI HIM DAMSYIK

Dansa dan film adalah dua dunia yang berjalan linear dalam kehidupan HIM Damsyik. Keterampilan berdansanya berkelas dunia. Kehebatannya memerankan tokoh antagonis dalam sinetron “Siti Nurbaya” membuat namanya sangat lekat dengan sebutan “Datuk Maringgih” dan kepiawaiannya berdansa menjadikannya memperoleh julukan “Datuk Dansa”. Dengan dansa dia meraih kesuksesan, karier, kesehatan dan kebahagiaan. “Kalau mau bahagia dan sehat berdansalah,” ujar lelaki ramping ini.
Piala Dunia Sepakbola tahun 1998 di Perancis membawa berkah tersendiri buat “si Datuk Maringgih” HIM Damsyik. Lagu “La Copa de la Vida” lagu resmi World Cup 1998 itu disenandungkan oleh Ricky Martin secara apik dalam pakem tarian salsa yang atraktif. Lagu itu sangat populer dan berhasil memancing minat masyarakat awam hingga elit kalangan atas pecinta dansa untuk kembali turun ke lantai dansa sekadar bergoyang poco-poco atau berdansa ballroom secara profesional.
Naiknya kembali popularitas dansa setelah sempat tenggelam sebab di tahun 1950-an pernah dicap sebagai produk gaya hidup imperialis oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) serta merta mengangkat pula kembali ke permukaan keterampilan HIM Damsyik berdansa. Banyak orang mulai belajar serius tentang dansa dan HIM Damsyik laku keras sebagai instruktur sebab dialah salah satu di antarra sedikit instruktur dansa profesional berlisensi internasioal lulusan Negeri Belanda.
Keterampilannya berdansa berkelas dunia pernah dia tampilkan pada kesempatan kejuaraan Jakarta Open Dance Sport 2003 di The Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, 28 Maret 2003. Damsyik di situ unjuk kebolehan bersama 122 pasang pedansa-pedansa internasional dari berbagai penjuru dunia yang mengikuti kejuaraan.
Lelaki ramping bertinggi badan 180 centimeter namun cukup sehat dengan berat hanya 55 kilogram ini memang ulung sebagai jago dansa Indonesia. Pemeran tokoh antagonis dalam sinetron “Siti Nurbaya” arahan sutradara Irwinsyah yang disiarkan TVRI yang membuat namanya menjadi sangat lekat dengan sebutan “Datuk Maringgih” harus mulai rela memperoleh julukan yang lebih baru yakni “Datuk Dansa”.
Dansa dan film adalah dua dunia yang berjalan linear dalam kehidupan HIM Damsyik. Ketika dansa mulai “mati suri” sejak tahun 1950-an akibat cap sepihak kaum PKI sutradara tenar Wim Umboh yang biasa mengajak dia sebagai koreografer untuk film-film menawarkannya untuk juga mencoba ikut bermain film sebagai aktor. Jadilah ayah lima orang anak dan kakek 20-an orang cucu ini hidup asyik. Dengan dansa dia bisa meraih kesuksesan, karier, kesehatan, dan kebahagiaan. “Jadi, kalau mau bahagia dan sehat berdansalah,” ujarnya dalam selera humor yang tinggi.
Lahir di Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929 sejak masa kecil Damsyik sudah banyak menghabiskan waktu dengan menari. Setiap kali ada perayaan yang menyuruh anak-anak menari, dan suruhan menari itu biasanya pasti ada di setiap pesta, maka Damsyik sering ikut ambil bagian. Dia akhirnya sadar bahwa dirinya senang menari. Bersamaan itu orang yang pernah menyaksikan ikut pula menilai bahwa Damsyik memang berbakat menari. Namun Damsyik sendiri mengaku tidak tahu dari mana bakat menari itu berasal sebab ayahnya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, KPM, tidak pernah menari atau berdansa.
Mahasiswa gemar dansa-dansi
Ketika hendak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi dia hijrah ke Jakarta namun nyatanya sambil kuliah dia masih harus bersentuhan kembali dengan dansa. Dia mengenang di tahun 1950-an itu di Jakarta masih banyak bermukim orang Belanda sehingga budaya dansa-dansi masih dominan sebagai alat pergaulan termasuk di kalangan mahasiswa. Setiap malam minggu mahasiswa pasti berkumpul dan gemar berdansa. “Di sanalah bakat berdansa saya terasah,” ucap Damsyik yang ikut pula aktif semasa kuliah sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada).
Dia lantas semakin percaya diri akan bakat dansanya setelah berhasil menyabet Juara I Lomba Dansa Ballroom di Jakarta. Ketika juara bukan hanya merasa senang melainkan dia sendiri mengaku ikut terkejut atas keberhasilannya. Sejak peristiwa itu dia lalu memutuskan pindah untuk menekuni dansa secara profesional.
Keinginan menjadi pedansa profesional menuntutnya harus rela pergi belajar lebih jauh lagi hingga ke negeri asing untuk mendalami dansa selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Damsyik adalah salah satu diantara jumlah yang tidak banyak instruktur dansa Indonesia yang berhasil mengantongi ijazah dansa berkelas internasional.
Yang pasti usai Ricky Martin berhasil mempopulerkan “La Copa de la Vida” selain aktif bermain film sinetron jadwal HIM Damsyik menjadi semakin padat setelah ditambah aktivitas dansa. Praktis tiada hari tanpa diisi mengajar dansa di kelas-kelas dansa profesional yang tersebar di banyak tempat di Jakarta. Jadwal itu belum termasuk mengajar peserta kursus yang minta diajar secara privat, atau kesibukan lain menjadi juri di berbagai lomba dansa yang marak diselenggarakan. Namun jadwal yang tetap adalah di bilangan Cinere Jakarta Selatan tempat Damsyik membuka sendiri sekaligus memimpin sebuah sekolah dansa bernama Damsyik School of Dance. Banyak murid dansa yang dia latih kini kerapkali memenuhi kafe, club house, atau hotel yang menyediakan tempat untuk berdansa.
Damsyik menjelaskan secara umum dansa dibagi dua jenis modern ballroom dan Latin American Dancing. Modern ballroom bisa dibagi menjadi lima kategori yakni waltz, tango, blouse, quick step, dan slow foxfort. Sedangkan Latin American Dancing terbagi menjadi rumba, falcaca, samba, paso doble, dan jive.
Waltz sebenarnya masih terbagi dua yakni vienna waltz dan english waltz. Perbedaannya vienna waltz gerakannya lebih cepat dan lincah namun tidak begitu digemari oleh orang Inggris. Orang Infggris lebih senang yang lembut dan tidak begitu melelahkan sehingga lahirlah yang namanya english waltz.
Usia sudah berkepala tujuh kakek 20-an cucu pula namun dia tetap fit dan lentur berdansa sekaligus gairah main film. Aktivitas dia sejak pagi hari hingga larut malam dia jalani tanpa keluhan berarti. Pemeran Pak Wiryo dalam sinetron “Wah… Cantiknya” bersama aktris Tamara Blezinsky dan Anjasmara ini punya resep menerapkan pola hidup sehat. Hidup terasa sehat tak membbuatnya lupa untuk selalu melakukan tes kesehatan enam bulan sekali dan hasilnya selalu bagus.
Disebutkannya dansa bisa membentuk tubuh sehingga tulang-tulang terlatih dengan baik dan membantunya untuk selalu tampil prima dalam setiap kegiatan. Bahkan dia sanggup berdansa hingga berjam-jam sebab jika tersedia kesempatan dia akan selalu berdansa. Karena masih kuat berdansa tubuhnya yang kurus tidak pernah tampak kelelahan. Dansa membuat tubuh dia selalu sehat tidak mudah sakit dan terutama perutnya belum pernah buncit.
Seabrek kegiatan harus dia lakoni tiap hari. Misalnya, pagi-pagi sekali sudah harus ke Indosiar lalu siangnya mengajar dansa privat di Pondok Indah. Setelah itu syuting sinetron. Dalam setiap kesempatan perjalanan ke luar kota masih sering dia lakukan dengan menyetir sendiri. Bagi dia hari Sabtu Minggu betul-betul dia manfaatkan beristirahat sebagai hari keluarga berkumpul.
Tubuh boleh tampak amat kurus dan jangkung dengan postur tinggi 180 cm dan berat hanya 55 kg namun dengan pola hidup sehat dan dibantu olahraga dansa kesan rentan terhadap penyakit selalu tertepis. Dia mampu melindungi diri dari penyakit yang biasa diidap manusia lanjut usia. Tidak mengherankan jika sebuah perusahaan minuman suplemen kesehatan mempercayakan lelaki kurus jangkung ini sebagai bintang iklan obat perkasa ala pria di televisi dan media cetak.
Dia menyebutkan saat sarapan biasa menyantap susu dan sereal atau roti berlapis keju ditambah buah-buahan dan air putih. Sesendok madu dan vitamin penambah darah ikut pula dia konsumsi selalu. Dia tak punya pantangan makanan apa pun kecuali sayur mayur sebuah kategori makanan sehat namun kurang dia sukai. Sebagai gantinya Damsyik memperbanyak konsumsi buah karena itu isterinya selalu membekali dia sebuah cool box berisi buah-buahan segar dan sebotol air putih sebelum berangkat ke lokasi syuting.
Sebagai tokoh dansa kontemporer Indonesia dia mulai merasa senang dan bersyukur karena dua hal. Pertama dia merasa senang karena Piala Dunia 1998 telah memicu perkembangan dansa menjadi sangat pesat di Indonesia. Dansa yang semula tidur nyenyak kembali bangun. Ketika di tahun 1950-an kekuasaan PKI agak dominan dansa dianggap sebagai kebudayaan Barat yang harus dilarang keras. Larangan itu sempat membuat Damsyik merasa takut namun dia tetap tekun berlatih sendiri dan kalau ada kesempatan dia akan selalu manfaatkan untuk berdansa.
Kedua dia bersyukur karena dansa yang menuntut seluruh tubuh bergerak itu sama definisinya dengan olahraga. Karena itu dansa lantas diterima dan diakui sebagai olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Ikatan Olahraga Dansa Indonesia kemudian dibentuk bernaung di bawah keanggotaan KONI dan HIM Damsyik sejak 12 Juli 2002 adalah ketua umum pertama yang dipercaya.
HIM Damsyik bertutur kekuatan dansa terletak pada fungsi sosial yang mampu membuat lelaki maupun perempuan dari semua latar belakang dapat berbaur bersosialisasi dan bergembira bersama. Dansa menjadi alat yang perlu untuk menjalin pergaulan bahkan dipercaya sebagai alat diplomasi yang ampuh sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri yang berdansa dengan (mantan) Presiden RRC Jiang Zemin tahun 2002 lalu. Keduanya di Beijing ketika itu melakukan dansa jenis modern ballroom.
Kiprah aktor senior dan guru dansa ini akhirnya harus terhenti di usianya yang ke-82 tahun, Jumat dinihari tanggal 3 Februari 2012. Setelah dishalatkan di Masjid Al-Ittihad, jenazahnya langsung dikebumikan di TPU Karet Vivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Damsyik sempat dirawat selama dua minggu di RS Puri Cinere dan RS MMC karena kekurangan sel darah merah. Dan hati.
(Sumber: www.tokohindonesia.com)

ALASAN MISTIS SOEKARNO MEMILIH 17 AGUSTUS 1945


17 Agustus 1945 merupakan waktu yang sakral bagi bangsa Indonesia. Saat itu, Presiden RI pertama, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang sekaligus menjadi tonggak baru perjalanan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku itu.

Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch. Hatta, mengumandangkan proklamasi tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan.

Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik.

Alasan itu disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta ‘diculik’ oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang. ‘Penculikan’ itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel Jepang.

“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno. Mendengar pernyataan Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?” tanya Sukarni.

Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi.

Kemudian pada sore harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.

Rabu, 26 Februari 2014

KISAH TAN MALAKA DAN WASIAT SOEKARNO


Tan Malaka membuka identitas aslinya pertama kali kepada Soebarjo, temannya di Belanda saat masih sekolah. Dari Soebardjo Tan Malaka kemudian mendapat jalan untuk bertemu Soekarno .
Saat itu, Bung Karno mendapat informasi soal keberadaan Tan Malaka di Jakarta. Bung Karno lantas menugaskan sekretaris pribadinya, Sajoeti Melik untuk mencari Tan Malaka dan mempertemukannya dengan Bung Karno .
Dalam buku ‘Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia’ Karya Harry A Poeze pertemuan antara Tan Malaka dengan Bung Karno terjadi pada 9 September. Pertemuan itu terjadi di rumah kediaman dokter pribadi Soekarno , dr Soeharto , di Jalan Kramat Raya No 82, Jakarta.
Pertemuan itu digelar secara rahasia. Sebab, saat itu polisi rahasia Jepang, Kempetai, sudah mengetahui jejak rekam Tan Malaka sebagai seorang pejuang. Bung Karno lantas meminta dr Soeharto merahasiakan pertemuan itu.
Kepada dr Soeharto , Tan Malaka juga mengaku sebagai Abdul Razak dari Kalimantan. Saking rahasianya, pertemuan bahkan digelar dalam kondisi gelap. Lampu penerangan di kamar pertemuan sengaja dipadamkan.
Pertemuan antara Bapak Republik Indonesia dengan sang Proklamator pun berlangsung. Bung Karno menanyakan sejumlah hal mengenai pemikiran Tan Malaka dalam buku-bukunya seperti Massa Aksi, yang sangat berpengaruh pada pemikiran politik Soekarno . Tan Malaka pun menjawabnya dengan lugas.
Dalam pembicaraan itu Tan Malaka lebih banyak bicara menerangkan soal nasib Revolusi Indonesia. Sementara Bung Karno mendengarkan ‘khutbah’ dari sang revolusioner. Tan menjelaskan kepada Bung Karno agar pemerintahan dipindahkan ke pedalaman. Orang-orang Belanda dan Inggris harus segera dipulangkan dan Jakarta harus dijadikan medan pertempuran melawan pasukan Sekutu yang telah menang Perang Dunia II.
Bung Karno tencengang. Gagasan Jakarta harus menjadi medan pertempuran merupakan hal baru baginya. Saking terpesona dan kagumnya, Bung Karno lantas membuat pernyataan Tan Malaka adalah penggantinya kelak.
“Kalau saja tiada berdaja lagi, maka kelak pimpinan revolusi akan saja serahkan kepada saudara ( Tan Malaka ),” kata Bung Karno .
Keduanya kemudian kembali menggelar pertemuan rahasia untuk kali kedua di rumah pemimpin Barisan Pelopor, Moewardi di Jalan Mampang, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Bung Karno kembali mengulangi janjinya menunjuk Tan Malaka sebagai penggantinya jika sekutu menangkapnya atau sesuatu hal buruk menimpanya.
Tan Malaka tak terlalu menghiraukan janji Bung Karno . Tan menilai pernyataan itu hanyalah sebagai bentuk penghormatan dari Bung Karno kepada dirinya.
“Usul memimpin revolusi tadi saya saya anggap sebagai satu kehormatan saja dan sebagai tanda kepercayaan dan penghargaan Bung Karno kepada saya belaka. Teristimewa pula sebagai suatu tanda nyata bahwa di masa lampau, benar ada suatu ikatan jiwa dan paham antara Bung Karno dan saya walaupun kami hidup berjauhan,” kata Tan Malaka .
Meski tak menyeriusi janji Soekarno , Tan Malaka menceritakan hal itu kepada Soebardjo. Soebardjo lantas meminta Bung Karno menuliskan janjinya itu dalam sebuah pernyataan di atas kertas alias testamen politik. Sebab, saat itu desas desus Soekarno-Hatta bakal ‘diambil’ Sekutu karena telah bekerjasama dengan Jepang semakin ramai terdengar. Sementara Sekutu dikabarkan akan segera mendarat di Indonesia. Hal itu menuai kegelisahan. Harus ada pengganti Soekarno-Hatta.
Soekarno akhirnya sepakat membuat testamen politik pada 30 September 1945. Saat itu Tan berada di rumah Soebardjo dan tengah berbincang dengan Tan Malaka , Iwa serta Gatot. Bung Karno dan Soebardjo lantas menemui Hatta untuk meminta persetujuan atas testamen politik itu. Namun, Hatta menolak.
Hatta menawarkan ada empat pengganti dari empat aliran jika dirinya dan Soekarno ditangkap Sekutu atau hal buruk menimpa mereka. Empat orang dari empat aliran itu antara lainl; Tan Malaka dari aliran paling kiri, Sjahrir dari aliran kiri tengah, Wongsonegoro wakil kanan dan golongan feodal, serta Soekiman dari Islam.
Pertemuan kembali digelar keesokan harinya, 1 Oktober 1945, di rumah Soebardjo. Namun, Sjahrir, Wongsonegoro, dan Dr Sukiman tak hadir. Testamen akhirnya disepakati. Namun, Dr Sukiman yang saat itu sulit dihubungi akhirnya digantikan oleh Iwa Kusumasumantri. Alasannya, Iwa adalah teman dekat Dr Sukiman di Masyumi.
Naskah testamen diketik oleh Soebardjo dan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Soebardjo mendapat tugas memberikan testamen kepada Sjahrir dan Wongsonegoro. Namun belakangan diketahui testamen itu tak diberikan Soebardjo kepada keduanya.
Tan Malaka lantas pergi meninggalkan Jakarta untuk keliling Jawa sesuai usul Hatta. Hal itu dilakukan agar Tan bisa memperkenalkan dirinya kepada rakyat. Namun di perjalanan, Tan banyak menemui testamen politik palsu beredar. Dalam testamen itu hanya disebut Tan Malaka sebagai calon pengganti Soekarno . Tan sendiri tak tahu siapa orang yang melakukannya.
Sejak Tan Malaka wafat ditembak pasukan Letda Sukotjo pada 21 Februari 1949, testamen tersebut tak lagi menjadi pembicaraan. Testamen itu kemudian dihancurkan Bung Karno dengan cara dirobek-robek dan dibakar pada 1964 disaksikan oleh Aidit, SK Trimurti, dan Syamsu Harya Udaya, tokoh Partai Murba yang menyimpan testamen itu.

(sumber : www.sejarahri.com)

SAM RATULANGI, PAHLAWAN DARI MANADO


Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949) adalah salah seorang politikus dan pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Filsafatnya yang berbunyi, “Si tou timou tumou tou” — manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia – sangat terkenal hingga sekarang.
Sam Ratulangi adalah anak lelaki satu-satunya dari tiga bersaudara, yang merupakan buah cinta pasangan Jozias Ratulangi dan Agustina –putri dari Mayoor Gerungan. Ayah Sam adalah seorang guru yang sangat cerdas. Oleh karenanya, ia dikirim ke Belanda untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Setelah memperoleh Ijazah Hoofdakte, Jozias kembali ke tanah air dan menjadi kepala sekolah di Hoofdenschool, sekolah untuk anak-anak bangsawan atau raja-raja.
Sam mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar Belanda (Europeesche Lagere School) di Tondano dan melanjutkan ke Sekolah Menengah (Hoofdenschool) di sana. Setelah menamatkan pendidikannya di Hoofden School, Sam kemudian meninggalkan tanah kelahirannya untuk belajar di Indische Artsenschool (Sekolah Dokter Hindia) di Jakarta. Namun, setibanya di Jakarta, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke sekolah dokter dan lebih memilih untuk belajar di Koningin Wilhelmina School (Sekolah Teknik) dan tinggal di asrama “Beck Volten”. Empat tahun kemudian ia berhasil menamatkan pendidikannya dengan nilai gemilang. Latar belakang pendidikannya itu membuka kesempatan baginya untuk bekerja sebagai ahli teknik mesin di daerah Priangan Selatan, dan terlibat dalam proyek pembuatan jalan kereta api dari Garut ke selatan, melalui Rawah Lakbok ke Maos hingga ke Cilacap.

Lanjutkan disini.

Selasa, 25 Februari 2014

PUJANGGA RONGGOWARSITO

KOLOTIDO
Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” bab.8, seperti di bawah ini :
Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi
melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
kaliren wekasanipun
Dillalah karsaning Allah
Sakbeja-bejane wong kang lali
luwih beja kang eling lan waspada..
Apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi :
Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak,
ikut gila tidak tahan
jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik,
akhirnya menjadi ketaparan.
Namun dari kehendak Allah,
seuntung untungnya orang yang lupa diri,
masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada.
Kemudian gubahan ini diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma, berbunyi “bo-RONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya”. Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.
Masyarakat Jawa tidak akan gampang melupakan sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito. Tokoh yang hidup pada masa ke-emasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan ‘warisan tak terharga’ berupa puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta ditunjang bakat, mendudukkan ia sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta.
R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.
Sebagai putra bangsawan Burham mempunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko. Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan khayalannya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang, bahkan pada Serat Sabda Jati terdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri.
Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara., adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta.. Semasa kecil beliau diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, watak Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana.
Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.
Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan ‘klitikan’ (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham berjumpa dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi isterinya.
Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo/Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya. Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari.
Ketika kembali ke Pondok, kenakalan Bagus Burham tidak mereda. Karena kejengkelannya, maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya.
Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi kawan-kawannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara. Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang amat berguna baginya. Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu perbuatan jahat atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani.Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu :
Pertama : Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras.
Kedua : Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa. Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa.
Ketiga : Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman diperoleh dari Gusti Pangeran Harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jaya-kawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom.
Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.
Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas ngabehi Sarataka, pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi. Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur.Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani.
Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24.

Sumber : www.sejarahri.com
            : www.karatonsurakarta.com